Beberapa minggu ini, aku sedang bersemangat untuk belajar memasak. Dari kecil orangtuaku memang tidak pernah mengajarkanku bagaimana caranya memasak sehingga bagiku memasak adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan.

Kebetulan saat ini aku tinggal di kos-kosan karena aku bekerja di salah satu kota besar di Indonesia, ialah Surabaya. Hidup di Surabaya yang semuanya serba mahal, mau tidak mau mengharuskan kita untuk hidup mandiri, salah satunya adalah dengan cara memasak makanan sendiri di kos untuk meminimalisir pengeluaran.

Akan tetapi, sebenarnya alasan utama mengapa aku sangat bersemangat untuk belajar memasak sekarang adalah karena seseorang. Ya, sebentar lagi aku akan menjadi istri dari pria tersebut. Oleh sebab itu, sebisa mungkin aku harus menghidangkan makanan lezat untuknya setiap hari setelah menikah nanti.

Masakan pertama yang aku coba adalah tumis kankung dan ikan bandeng goreng. Pagi-pagi sekali aku pergi ke pasar untuk berbelanja. Semua bahan sudah aku beli. Sesampai di kos, aku mulai membersihkan semua bahan-bahan yang akan aku masak. Bermodalkan video memasak di youtube, aku mengikutinya langkah demi langkah dengan cermat.

Pertama-tama, aku mulai memasak tumis kangkung. Bahan-bahannya cukup sederhana, jadi aku pikir sangat mudah untuk memasaknya. Semua bahan-bahan yang akan dijadikan bumbu aku iris-iris, seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, tomat, serta laos. Lalu, aku menumis semua bahan tersebut hingga matang.

Kemudian, aku memasukkan kangkung dan menambahkan bumbu lainnya seperti garam, gula, dan saos tiram. Semua langkah itu aku ikuti dari video memasak di youtube.

Setalah tumis kangkung matang, aku mulai menggoreng ikan bandeng. Aku takut, karena kata orang saat menggoreng ikan, mereka sering kecipratan minyak goreng. Untuk berjaga-jaga, aku menggunakan jaket dan sarung tangan seperti orang yang sedang kedinginan.

Semua masakanku sudah matang. Aku meletakkannya di dalam wadah dan siap untuk aku antarkan ke rumah pasanganku. Sesampainya disana, aku mempersilahkan dia untuk menyantapnya yang aku sendiri tidak tahu rasanya bagaimana.

Dia menyantapnya dengan lahap. Aku sangat senang sekali. Sesekali dia memberikanku jempol sambil berkata “enak”. Aku penasaran dengan rasanya, aku mencobanya sedikit. Ternyata, tidak seenak yang aku pikirkan.

Aku tahu, dia hanya ingin menghargai usaha kerasku dalam belajar memasak. Oleh sebab itu, dia mengatakan masakanku enak dan menghabiskan semuanya. Aku senang sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa memberikan dia hidangan makanan lezat. Tapi aku akan terus belajar memasak sampai bisa.