Saat aku masih kecil, banyak orang yang bertanya, “apa cita-citamu?” Jawabanku adalah dokter. Bagiku, dokter adalah profesi yang paling keren dan hebat karena bisa menyembuhkan orang sakit.

Tapi, seiring berjalannya waktu saat menginjak SMP sampai SMA, aku tidak lagi ingin menjadi dokter. Ya, namanya juga masih kecil, pasti sedikit labil, kan? Pikiran juga bisa berubah-ubah termasuk masalah cita-cita.

Saat kelas 2 SMP, aku mulai suka baca novel. Tapi bukan nove yang aneh-anes, melainkan novel remaja yang membahas tentang ‘cinta-cintaan’. Kadang, kalau alur cerita novel yang aku baca menyenangkan, aku bisa menghabiskannya hanya dalam dua hari saja. Dihabiskan bukan berarti dimakan ya, tapi dibaca sampai selesai alias tamat.

Sering membaca novel, sampai membuatku seolah-olah ikut masuk ke dalamnya. Banyak imajinasi yang bisa aku dapatkan setelah membaca novel. Hingga akhirnya aku ingin membuat novel sendiri.

Aku mulai menulis cerpen yang aku ambil dari kisahku sendiri. Aku membuatnya dengan kata-kata yang mudah dimengerti, kata-kata yang santai sehingga bisa dimengerti oleh pembacanya.

Setelah aku menyelesaikan cerpen perdanaku, dengan ‘pedenya’, aku menunjukkannya ke teman-temanku. Aku meminta mereka membacanya. Coba tebak, apa reaksi mereka? Tentu saja, mereka senang membaca cerpenku. Kata mereka aku ada bakat nulis cerpen.

Wah, kalau kamu jadi aku, pasti kamu akan merasa sangat girang. Akhirnya aku menemukan cita-citaku yang baru. Yup, aku ingin jadi penulis. Aku ingin menulis cerpen dan novel yang nantinya bisa diterima oleh penerbit. Aku bisa menjadi penulis terkenal.

Lagi lagi, pikiranku berubah. Aku mulai menyukai Bahasa Inggris dan bercita-cita ingin menjadi guru Bahasa Inggris. Akupun masuk kuliah dengan mengambil fakultas keguruan Bahasa Inggris. Tapi, menulis masih tetap menjadi hobbiku sampai saat ini.

Setelah beberapa tahun kemudian, aku mulai lupa dengan hobbiku. Aku tidak pernah menulis lagi. Tapi, karena aku punya pacar yang ganteng dan serba bisa (sering aku ceritakan di setiap tulisan, jangan bosan ya), aku jadi mulai menulis lagi.

Dia membuatkanku sebuah blog yang isinya tentang travel, kuliner, art, dan gaya hidup. Aku harus menulis artikel tentang itu semua minimal satu artikel dalam satu hari. Bagi aku kecil alias mudah.

Tapi, ternyata tidak sama seperti yang aku bayangkan. Menulis blog ternyata susah yah? Harus konsisten. Orang males seperti aku susah. Ditambah lagi dengan pekerjaan kantor yang sangat banyak sehingga aku tidak ada waktu untuk nulis.

Pacarku tidak kehabisan ide, dia tetap melatih kemampuan menulisku dengan menulis artikel namun bukan di blog pribadi melainkan di blog dia. Aku menulis tentang kesehatan dan seks.

Setelah beberapa bulan aku menulis artikel di blognya, dia mucul ide lagi. Pacarku itu memang orang yang gak pernah kehabisan ide (makin sayang). Dia membuatkanku sebuah blog lagi (belum kapok). Tapi blog kali ini berbeda dari blog sebelumnya.

Kali ini, tugasku hanya menulis artikel yang membahas tentang keseharianku dan juga tentang makanan enak yang pernah aku coba. Istilahnya, aku cuma perlu sharing tentang pengalaman pribadi saja. Yang jelas itu akan lebih mudah.

Nah, akhirnya jadilah blog ini, (Festory.web.id). Senang sekali punya blog baru. Bisa sharing tentang berbagai hal disini.