Setelah pacaran sekian lama, apa yang paling ditunggu oleh perempuan? Pastinya dilamar, kan? Ya, dengan dilamar menandakan bahwa hubungan akan semakin dekat dan serius. Buat apa pacaran lama tapi akhirnya tak kunjung dilamar alias gak ada kepastian?

Sedikit cerita nih tentang moment bahagiaku kemarin, yaitu saat aku dilamar oleh pacarku. Aku dilamar empat hari setelah lebaran idul fitri. Dan proses lamaran itu sangat mendadak.

Jadi ceritanya gini, aku pernah cerita kalau aku tinggal di Surabaya dan pacarku di Sidoarjo. Nah, dua minggu sebelum lebaran, pacarku pulang kampung ke Banyuwangi. Sedangkan aku masih di Surabaya karena bekerja.

Biasanya, sebelum lebaran aku pulang ke rumah dia selama 2 hari, setelah itu baru aku pulang ke Jember. Tapi, lebaran tahun ini aku ambil cuti setelah lebaran. Jadi aku memutuskan untuk ke Banyuwangi setelah lebaran saja.

Satu hari sebelum lebaran aku pulang ke Jember. Jadi aku dikasih cuti selama seminggu oleh kantor. Aku bagi waktu 4 hari di Jember dan 3 hari di Banyuwangi.

Saat lebaran tiba, seperti biasa aku bersilaturahmi dengan keluarga besar dan saudara. Mereka semua menanyakan pacarku, karena mereka berharap aku segera bertunangan.

Pertanyaan itu membuat aku tidak nyaman. Aku juga ingin tunangan, tapi bukan berarti dalam waktu dekat ini karena ada banyak yang perlu dipertimbangkan, terutama pacarku. Dia masih merasa belum siap. Aku juga tidak mungkin memaksa dia walaupun aku sendiri cukup kecewa.

Akhirnya, aku menjawab pertanyaan mereka yang terus bertanya “kapan tunangan? Kapan nikah? Bla bla bla”. Capek tau gak sih selalu ditanya tentang hal yang sama. Kamu juga pasti merasakan hal yang sama denganku, kan? Aku hanya menjawab “iya nanti. Doakan saja”.

Dua hari setelah lebaran, aku pamit ke Banyuwangi untuk le rumah pacarku. Tujuannya untuk bersilaturahmi ke semua keluarga pacarku. Akupun berangkat naik kereta.

Sesampai di Banyuwangi, aku disambut hangat oleh semua keluarga pacarku. Inilah yang membuatku betah disana dan selalu ingin kesana. Mereka sangat menyayangiku walaupun statusku masih sebagai “pacar”.

Aku sampai di Banyuwangi sekitar jam 12 siang. Kebetulan hari itu, seluruh keluarga pacarku ada acara silaturahmi ke rumah kakek yang paling tua. Pastinya aku juga diajak.

Setelah beberapa saat, kami tiba di rumah kakek. Aku berkumpul dengan semua adik pacarku di ruang tamu. Kami mengobrol panjang lebar. Sementara, para orang tua sedang berkumpul di ruang tengah seperti sedang membicarakan hal penting.

Tidak lama kemudian, ibu (ibu pacarku) memanggilku. Beliau memintaku untuk duduk dan mendengarkan semua pembicaraan yang sedang mereka lakukan. Seperti sedang ditodong, ibu dan keluarga lain menanyakan beberapa pertanyaan padaku. Lalu, tiba-tiba ibu berkata “kalau dilamar minggu ini siap?”.

Mendengar pertanyaan itu, aku sangat kaget. Minggu ini lamaran? Cepat sekali, pikirku. Sebenarnya aku belum siap karena belum menyiapkan apapun, begitu juga semua keluargaku di rumah. Tapi, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku bilang “saya siap”. Akhirnya, tgl lamaran kami ditentukan hari itu juga, yakni tgl 19 Juni 2018.

Biasanya, sebelum acara lamaran, perempuan yang dilamar menunggu di rumah. Tapi aku tidak. Aku di rumah pacarku sambil melihat ibu yang kewalahan menyiapkan acara lamaran kami. Lucu memang. Bisa dikatakan, proses lamaranku ini cukup aneh.

Aku menelpon keluarga di Jember. Mereka semua terkejut sekaligus senang karena aku mau dilamar. Ya, semua keluargaku memang sudah menunggu jauh-jauh hari, tapi aku tidak pernah memberikan mereka kepastian. Mereka senang sekali.

Tibalah saat proses lamaram itu. Sebagian keluarga pacarku bersiap-siap menuju rumahku dengan membawa seserahan, seprti lamaran pada umumnya. Dan tentunya, aku dan pacarku juga ikut. Kalau aku ingat ini, aku pasti tertawa sendiri. Karena aneh, bukannya aku menunggu mereka datang ke rumah, tapi aku malah ikut mereka ke rumah.

Alhamdulillah proses lamaran kami berjalan dengan lancar. Walaupun tanpa persiapan. Kalau biasanya pasangan yang melakukan acara lamaran, mereka akan menyiapkan pakaian yang seragam, atau hiasan di rumah dan mengabadikannya.

Sementara aku dan pacarku hanya mengenakan pakaian seadanya saja. Tapi yang penting kami sudah memasuki tahap awal yang penting dalam sebuah hubungan. Tinggal menunggu hari pernikahan saja. Semoga selalu diberi kelancaran.