Sedikit mengingat kenangan masa lalu, saat aku duduk di bangku kuliah semester akhir atau semester 8 pada tahun 2016, aku pernah mencoba mengajar di salah satu Lembaga Kursus Bahasa Inggris di kota kelahiranku Jember, yakni Winda’s English Course.

Saat itu, aku hanya disibukkan dengan skripsi, sehingga ada banyak waktu yang akan terbuang percuma jika tidak aku gunakan dengan baik.

Ayah menyuruhku untuk melamar menjadi guru Bahasa Inggris di sekolah-sekolah atau tempat kursus Bahasa Inggris karena hal tersebut berhubungan dengan program studi dan jurusan yang aku ambil saat kuliah, yaitu FKIP Bahasa Inggris.

Saat itu, ayah berpikir bahwa dengan aku mengajar, aku bisa menyalurkan ilmu sekaligus melatih kemampuan mengajarku sebelum menjadi guru yang sesungguhnya.

Akupun meng-iyakan keinginan ayah karena apa yang ia katakan adalah benar. Aku bisa melatih kemampuan mengajarku dan juga bisa memanfaatkan waktu luangku dengan baik. Walaupun sebenarnya ada alasan lain mengapa aku harus mengajar di Lembaga Kursus Bahasa Inggris.

Ya, saat itu perekonomian keluargaku sedang tidak bagus. Ibuku sakit, dan ayahku hanya bekerja serabutan. Sehingga, aku harus bisa membantu mengurangi beban mereka meskipun hanya sedikit, apalagi aku masih kuliah dan membutuhkan dana untuk menyelesaikan skripsiku.

Dengan semangat yang meluap-luap, akupun mencoba melamar di salah satu Lembaga Kursus Bahasa Inggris yang kebetulan dekat dengan kampusku. Aku mengikuti serangkaian tes masuk, seperti tes wawancara, praktek mengajar selama satu minggu, dan terakhir adalah tes story telling atau bercerita di hadapan semua tutor dan student.

Saat tes wawancara, semuanya berjalan lancar. Namun, ketika memasuki tes praktek mengajar, aku merasa sedikit kesulitan karena harus mengajar anak kecil yang usianya sekitar 6-12 tahun yang masuk ke dalam kelas basic 1 dan basic 2. Walaupun begitu, aku bisa melewatinya dengan baik.

Hingga tiba saatnya aku harus story telling di hadapan semua tutor dan student. Aku merasa gugup, padahal di kampus aku sering melakukan presentasi di depan teman-teman. Sekali lagi, aku bisa melewatinya dengan baik.

Lalu, pengumumanpun tiba. Aku lolos dan mendapatkan jadwal untuk mengajar selama 2 kali dalam seminggu, yakni hari selasa dan kamis.

Aku cukup senang dengan jadwal mengajar tersebut karena di hari itu adalah jadwalku juga untuk konsultasi tentang skripsi dengan dosen pembimbingku sehingga aku tidak harus menghabiskan banyak uang untuk membeli bahan bakar minyak karena jarak antara rumah dengan kampus dan tempat mengajarku cukup jauh.

Ayahku senang saat mendengar bahwa aku lolos dan bisa mengajar di Lembaga Kursus Bahasa Inggris. Dia sangat semangat mengantarku ke tempat kursus pada malam harinya karena kebetulan ada jadwal meeting. Dia juga menungguku sampai meeting selesai.

Hari pertama mengajar aku sangat bersemangat. Aku mengajar sambil sesekali membayangkan berapa gaji yang bisa aku dapatkan nanti. Ini pekerjaan pertamaku, jadi aku tidak sabar menunggu sampai saatnya gajian tiba. Tapi, sebaiknya apa yang aku lakukan ini jangan dicontoh karena tidak baik.

Disaat aku mengajar, aku pernah mengalami kejadian yang membuatku naik darah. Ada 5 anak didikku dengan usia sekitar 8-9 tahun memintaku untuk menemani mereka ke toilet. Akupun mengantar mereka.

Sesampai di toilet, mereka menyuruhku masuk untuk melihat kran air apakah airnya mengalir atau tidak. Tiba-tiba “braaaakk”. Mereka menutup pintu dan mengunciku dari luar. Aku panik dan berteriak. Berharap ada orang di luar dan membantuku membuka pintu.

Selang beberapa menit, akhirnya ada tutor lain yang tahu bahwa aku terkunci di dalam kamar mandi. Diapun membuka pintu kamar mandi tersebut dan akupun bebas. Kejadian ini membuatku berpikir bahwa sebagai guru khususnya yang mengajar anak kecil, kita harus selalu sabar dan mendidik mereka dengan penuh kasih sayang.

Horeeeeee.. Tak terasa waktu gajianpun tiba. Total jam mengajarku sebanyak 8 kali dalam satu bulan, namun karena ada acara kampus jadi aku hanya bisa mengajar sebanyak 7 kali saja. Aku mulai menerka-nerka berapa jumlah uang dalam amplop yang aku terima.

Aku tidak sabar untuk membukanya. Sesampai di rumah, aku membuka amplop tersebut dengan perasaan gugup. Setelah membukanya, aku cukup kaget. Ternyata, dalam satu kali pertemuan aku hanya digaji sebesar 25ribu rupiah saja karena total uang yang aku terima hanya 175rb.

Sedikit kecewa, karena perjalanan dari rumah ke tempat kursus cukup jauh. Akan tetapi, ayahku terus menyemangatiku. Gaji bukanlah tujuan utama, yang terpenting adalah bagaimana caranya supaya aku bisa melatih kemampuan mengajarku dan juga menyalurkan ilmu yang aku peroleh selama kuliah agar bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Nah, itulah pengalamanku saat mengajar di Lemabaga Kursus Bahasa Inggris. Semoga kamu bisa memperoleh pelajaran berharga dari ceritaku ini.